Training Needs Assessment Bapelkes Semarang 2015 : Pengkajian Kebutuhan Pelatihan bagi Penyuluh Kesehatan Masyarakat (PKM)

Training Needs Assessment Bapelkes Semarang 2015: Pengkajian Kebutuhan Terhadap Tenaga Penyuluh Kesehatan Masyarakat (PKM)

 

Dalam pengembangan dan penyelenggaraan diklat, salah satu model yang dapat diadopsi oleh instansi diklat adalah model pelatihan integral. Model ini meliputi pengkajian kebutuhan pelatihan (training needs assessment), proses perumusan tujuan pelatihan, perancangan program pelatihan, pelaksanaan program pelatihan, dan evaluasi program pelatihan. Secara rinci tampak sebagai berikut:

Model Pelatihan Sebagai Proses Integral

TNA

Proses pertama yang harus dilewati dalam pengembangan diklat adalah pengkajian kebutuhan pelatihan atau Training Needs Assessment (TNA). TNA dilakukan agar pelatihan yang dibangun merupakan pelatihan yang memang dibutuhkan oleh konsumen. Pada prinsipnya, kebutuhan pelatihan muncul karena ada diskrepansi antara performa kerja yang diharapkan dengan performa kerja yang senyatanya (Mujiman, 2009: 62). Pelatihan yang ditujukan untuk meningkatkan kinerja juga sejalan dengan arah pelatihan bidang kesehatan yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 725/Menkes/SK/V/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di Bidang Kesehatan. Dalam kebijakan tersebut (2003: 2) dijabarkan bahwa pelatihan pada hakekatnya adalah suatu sistem pembelajaran dalam rangka meningkatkan kinerja, profesionalisme dan atau menunjang pengembangan karier tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Arah dari pelatihan bidang kesehatan tersebut meliputi peningkatan penguasaan pengetahuan, sikap dan keterampilan di bidang kesehatan dan peningkatan penguasaan pengetahuan, sikap dan keterampilan serta kewenangan di bidang teknis kesehatan.

Dalam melaksanakan TNA, terdapat beberapa tahapan yaitu identifikasi masalah, penentuan desain kajian, pengumpulan data, analisis data, dan evaluasi dan umpan balik. Identifikasi masalah meliputi kebutuhan organisasi, spesifikasi performa pekerjaan, dan kebutuhan individu. Identifikasi masalah akan berdampak pada pemetaan data yang dibutuhkan.

Desain kajian merumuskan sasaran populasi dan sampel, metode survey, dan perencanaan survey. Desain kajian yang efektif dan efisien akan mempermudah pengumpulan data. Data dapat diperoleh melalui informasi sekunder maupun survey langsung. Apabila survey dimungkinkan, langkah-langkah pelaksanaan survey meliputi orientasi tujuan pada pelanggan, penjelasan kuesioner, diskusi kelompok, penarikan kesimpulan, dan evaluasi.

Langkah selanjutnya setelah pengumpulan data adalah analisis data. Pada tahapan ini data yang terkumpul dianalisis sehingga menghasilkan kesimpulan apakah permasalahan-permasalahan yang ada dan kesenjangan yang muncul harus ditindaklanjuti dengan pelatihan atau memerlukan alternatif pemecahan masalah yang lain. Jika berdasarkan analisis, pelatihan dianggap sebagai solusi, maka perlu dibahas lebih lanjut mengenai langkah pengembangan desain pelatihan selanjutnya.

Untuk tahun 2015, Bapelkes Semarang melakukan kegiatan TNA terhadap tenaga penyuluh kesehatan masyarakat (PKM). Sasaran ini ditetapkan dengan mempertimbangkan kebijakan kementrian kesehatan yang lebih mengedapankan pendekatan preventif dan promotif dalam memecahkan masalah kesehatan. Adapun pemilihan media sebagai isu TNA didasarkan pada pemenuhan kriteria angka kredit jabatan fungsional PKM Ahli. Seorang tenaga jabfung PKM ahli dituntut untuk mampu mengembangkan media penyuluhan meliputi grafis, audio, audio visual, dan web.

Persiapan pelaksanaan TNA telah dimulai pada bulan Januari 2015 melalui rapat internal Seksi Pengkajian Pengembangan, widyaiswara, dan tim pelaksana TNA yang ditetapkan oleh Kepala Bapelkes Semarang. Kuesioner mulai disusun pada tanggal 12 Februari 2015. Dalam proses penyusunan kuesioner tersebut, tim juga melakukan pengumpulan informasi mengenai ketenagaan PKM di Propinsi Jawa Tengah beserta persebarannya, kegiatan pelatihan yang telah dilakukan di tingkat propinsi, dan rencana kegiatan PKM yang menjadi fokus pemerintah propinsi pada tahun 2015. Informasi diperoleh dari Dinkes Propinsi Jawa Tengah melalui kegiatan koordinasi dan konsultasi pada tanggal 13 Maret 2015.

Pada tanggal 8-10 Maret 2015, Uji Coba Instrumen TNA dilakukan terhadap 3 kabupaten sebagai sampel dengan total responden berjumlah 60 orang. Uji Coba dilakukan di Kabupaten Klaten, Kabupaten Kebumen, dan Kabupaten Kudus. Hasil Uji Coba dianalisis dan ditindaklanjuti melalui perbaikan instrumen. Tanggal 11-25 April 2015, survey TNA dilakukan terhadap 7 kabupaten meliputi 5 kabupaten di wilayah Propinsi Jawa Tengah (Kabupaten Temanggung, Rembang, Wonogiri, Purbalingga, dan Kendal. Dua kabupaten berada di DI Yogyakarta meliputi Kabupaten Sleman dan Bantul. Jumlah responden seluruhnya adalah 140 orang.

Saat ini, analisis terhadap data TNA tersebut masih dilakukan. Seksi Pengkajian Pengembangan dan Tim Pelaksana TNA menargetkan untuk menyelesaikan laporan pelaksanaan TNA pada akhir Bulan Juni 2015. Hasil TNA tidak saja dilaporkan kepada Kepala Bapelkes sebagai dasar perencanaan pengembangan pelatihan tahun depan, namun juga disampaikan ke tingkat eselon I dan II di atasnya jika terdapat masukan yang berkaitan dengan kebijakan pusat. (Penulis : Sefi)

Leave a Reply

twelve + seventeen =