PENTINGNYA PAGT PADA PGRS

Kualitas SDM di suatu negara yang digambarkan melalui pertumbuhan ekonomi, usia harapan hidup dan tingkat pendidikan secara langsung dipengaruhi oleh faktor kesehatan dan gizi. Untuk itu diperlukan upaya perbaikan gizi untuk meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya perbaikan gizi di dalam keluarga dan pelayanan gizi individu yang sedang menjalani perawatan di sarana pelayanan kesehatan seperti di rumah sakit (Kemenkes, 2013).

Pelayanan gizi di rumah sakit dilakukan tiap individu dan diberikan sesuai dengan keadaan pasien berdasarkan keadaan klinis, status gizi dan metabolisme tubuh. Pelayanan gizi di rumah sakit prosesnya meliputi pengkajian (assesment), diagnosis gizi, intervensi gizi meliputi perencanaan, penyediaan makanan, edukasi dan konseling serta monitoring evaluasi gizi.

Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT) dilakukan berkesinambungan dan terus-menurus sampai pasien menunjukkan dampak dari intervensi gizi. Menurut American Dietetic Association(2006), PAGT merupakan metode pemecahan masalah yang sistematis dalam membuat keputusan untuk menangani masalah gizi, sehingga dapat memberikan asuhan yang aman, efektif dan berkualitas tinggi.

Pelayanan gizi rawat inap diawali dengan penapisan (screening) yang dilakukan oleh perawat ruangan dan penetapan diet awal oleh dokter. Bila hasil screening pasien berisiko malnutrisi dan kondisi khusus dengan penyakit tertentu, maka dilakukan assesment gizi dilanjutkan langkah-langkah proses asuhan gizi standar sampai tujuan tercapai maka proses ini dihentikan, namun bila tujuan tidak tercapai atau tujuan awal tercapai tetapi terdapat masalah gizi yang baru, maka proses berulang kembali mulai dari pengkajian gizi. Siklus asuhan gizi ini terus berulang sampai pasien (client) tidak membutuhkannya lagi. Bila dibutuhkan pendekatan multidisiplin maka dapat dilakukan dalam Tim Asuhan Gizi (TAG)/Nutrition Support Team (NST)/Tim Terapi Gizi (TTG)/Panitia Asuhan Gizi (PAG).

Pengalaman di negara maju telah membuktikan bahwa hospital malnutrition (malnutrisi di RS) merupakan masalah yang kompleks dan dinamik. Malnutrisi pada pasien di RS, khususnya pasien rawat inap, berdampak buruk terhadap proses penyembuhan penyakit dan penyembuhan pasca bedah. Selain itu, pasien yang mengalami penurunan status gizi akan mempunyai risiko kekambuhan yang signifikan dalam waktu singkat. Semua keadaan ini dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas serta menurunkan kualitas hidup. Untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan pelayanan gizi yang efektif dan efisien melalui Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT).

Pelaksanaan pelayanan gizi di rumah sakit memerlukan sebuah pedoman sebagai acuan untuk pelayanan bermutu yang dapat mempercepat proses penyembuhan pasien, memperpendek lama hari rawat dan menghemat biaya perawatan. Sering  terjadi  kondisi  pasien  yang  semakin  buruk karena tidak  tercukupinya kebutuhan zat gizi  untuk perbaikan organ tubuh. Fungsi organ yang terganggu akan lebih memburuk dengan adanya penyakit dan kekurangan gizi. Selain itu masalah gizi lebih dan obesitas erat hubungannya dengan penyakit degeneratif, seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner, hipertensi dan penyakit kanker, memerlukan asuhan gizi untuk membantu penyembuhannya.

Penulis: Indrawati

DAFTAR PUSTAKA
Andry Hartono. 2006. Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. Jakarta: EGC.
Kemenkes RI. 2013. Pedoman Gizi Rumah Sakit. Jakarta: Kemenkes RI.
Sunita Almatsier. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Leave a Reply

one × two =