Cegah Batuk Pilek Dengan Pijat

Halo Ayah bunda… Musim Hujan udara sangat dingin ya. Batuk pilek adalah penyakit yang sering terjadi di musim hujan. Batuk pilek ini merupakan gejala klini penyakit ISPA ( Infeksi Saluran Pernafasan Akut) Ringan.

Penyebab

ISPA disebabkan oleh lebih dari 300 jenis bakteri, virus, dan jamur (Koes, 2015). Lebih dari 90% infeksi saluran pernapasan atas disebabkan oleh virus, yang meliputi rinovirus, influenza virus, parainfluensza virus, adenovirus, coxsackievirus, RSV, dan corona virus. Sedangkan bakteri tersering penyebab infeksi saluran pernapasan atas adalah streptococcus β-haemolyticus (Tanto, Liwang, Hanifati, & Pradipta, 2015). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada 261 anak usia dibawah 5 tahun dengan penderita ISPA, didapatkan hasil penyebab penyakit ISPA didominasi oleh virus influenza dan Streptococcus (Matu, Kikuvi, Wanzala, Karama, & Symekher, 2014).

Faktor – Faktor Risiko Internal  terjadinya ISPA

  1. Status gizi

Status gizi seseorang dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan kerentanan terhadap infeksi. Jika status gizi kurang maka kuman-kuman patogen lebih mudah menyerang tubuh sehingga bisa terjadi ISPA (Suman, 2013).

  • Status Imunisasi

Imunisasi memberikan kekebalan secara spesifik terhadap patogen-patogen penyakit seperti influenza yang merupakan salah satu patogen penyebab ISPA. Penelitian oleh Aprianingsih Husin di Yogyakarta menyatakan bahwa terdapat hubungan antara status imunisasi dengan ISPA dengan nilai p value sebesar 0,016 (Husin, 2014).

  • Berat Badan Lahir

Secara teori bayi dengan berat badan lahir rendah lebih rentan untuk terkena infeksi dibanding bayi dengan bayi berat lahir normal. Dalam penelitian telah dibuktikan bahwa terdapat hubungan antara berat badan lahir dengan kejadian ISPA dengan nilai p value sebesar 0,024 (Husin, 2014).

  • Pola pemberian ASI

Komposisi ASI sangat tepat dalam masa pertumbuhan bayi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang berubah-ubah sesuai dengan usianya. ASI juga dapat memberikan kekebalan pada tubuh anak karena kandungan didalamnya. Pada penelitian yang telah dilakukan di taman kanak-kanak di Kelurahan Dangin, Denpasar Timur menunjukkan bahwa dengan ada hubungan yang bermakna antara pola pemberian ASI terhadap kejadian ISPA (Lebuan & Somia, 2017).

Sedangkan faktor penyebab eksternalnya antaralain karena Virus/ Bakteri lebih mudah bertahan hidup pada udara yang lembab, dan saat musim hujan aktivitas kita sering di dalam rumah sehingga mempermudah penularan penyakit.

Beberapa pencegahan ISPA antara lain :

Meningkatkan daya tahan tubuh dengan menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (mandi, cuci tangan, makan makanan bergizi dan seimbang)

Jangan lupa, Pijat juga salah satunya bisa meningkatkan daya tahan tubuh lo…

Kenapa dengan Pijat???

Karena dengan pijat memberikan manfaat antaralain:

  1. Mampu menurunkan suhu/ demam

Salah satu tahap perjalanan alamiah penyakit ISPA adalah tahap dini penyakit, yaitu tahap yang dimulai dari gejala demam dan batuk . Berkaitan dengan gejala demam ISPA, penelitian yang dilakukan oleh Purnamasari (2015) menunjukkan bahwa rerata suhu balita yang mengalami ISPA yaitu 38,8oC.

Salah satu hasil penelitian yang dilakukan oleh Fatatu Malikhah  (2019) bahwa perubahan suhu pada kelompok yang diberikan pengobatan dari Puskesmas dan pijat ( kelompok intervensi)  dua kali lebih besar dibandingkan dengan kelompok yang hanya diberikan pengobatan dari Puskesmas ( kelompok kontrol). Untuk kelompok intervensi rerata perubahan suhu tubuh sebesar 0,6oC sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 0,3oC.  Menurut peneliti perubahan suhu tubuh terjadi karena adanya peningkatan daya tahan tubuh sehingga dapat menekan proses inflamasi dan  membuat suhu balita ISPA menurun.

  • Menstabilkan pernafasan

Gejala lain yang dapat dilihat oleh orang tua pada balita ISPA selain perubahan suhu adalah perubahan frekuensi napas. Sebuah  Penelitian  mengungkapkan bahwa terapi pijat efektif dalam memperbaiki status pernafasan pada anak balita dengan infeksi saluran pernafasan. Terapi pijat ini dapat membantu pelonggaran sekresi pernafasan yang ketat, memobilisasi dari jalan napas perifer ke jalan; nafas tengah dan kemudian dilepas saluran pernapasan bagian atas. Hal ini dapat meningkatkan fungsi paru (Matina et al., 2015).

  • Meningkatkan kualitas tidur

Salah satu tanda gejala ISPA adalah batuk. Batuk menyebabkan terganggunya kualitas tidur pada anak. Selain itu, anak yang kurang tidur akan menjadi rewel, gampang marah dan sulit diatur. Pijat bayi akan membuat bayi tidur lelap, meningkatkan kesiagaan (alertness), dan konsentrasi. Ini karena pijatan akan mengubah gelombang otak, yaitu dengan menurunkan gelombang alpha dan meningkatkan gelombang beta serta tetha. Perubahan gelombang otak ini dapat dibuktikan dengan pemeriksaan EEG (Electro Encephalogram) (Sutarmi et al., 2014).

  • Menurunkan jumlah bakteri

Hasil penelitian yang dilakukan Malikhah (2019) menunjukkan adanya penurunan jumlah bakteri streptococcus penderita ISPA yang berobat ke Puskesmas dan diberikan pijat lebih besar daripada penderita ISPA yang  hanya beorbat ke Puskesmas saja. 

Penelitian lain mengungkapkan bahwa pada akhir penelitiannya, kelompok intervensi memiliki jumlah sel natural killer lebih tinggi daripada kelompok kontrol (Matu, Kikuvi, Wanzala, Karama, & Symekher, 2014). Sel natural killer merupakan salah satu komponen dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Peran sistem imun selular ini sangat penting untuk melindungi tubuh melawan bakteri yang tumbuh secara intraseluler.(Darmanto, 2009)

Nah… mantap kan pengaruh pijat untuk mencegah/ mengobati batuk pilek. Yuk Ayah bunda belajar mijat untuk buah hatinya supaya Ananda sehat…. Karena “ Therapis terbaik adalah Orangtua” (Agustina Catur S. – Widyaiswara)

Referensi :

Darmanto, D. (2009). Respirologi. Jakarta: EGC. hal 43-47, 50

Malikhah, Nurul, et all. (2019). Baby Massage with Common Cold Massage Oil on Temperatur change, Pulse Rate, Frequency of Breath, Sleep Quality and Number of Streptococcus Bacteria in Toddler with Acute Respiratory Infection”. IndianJournal of Public Health Research and Development, 10(1),407-410

Matu, M., Kikuvi, G., Wanzala, P., Karama, M., & Symekher, S. (2014). Aetiology of Acute Respiratory Infections in Children under Five Years in Nakuru, Kenya. Journal of Microbiology & Experimentation, 1(4), 1–8. https://doi.org/10.15406/jmen.2014.01.00021

Matina, H., Beulah, H., & David, A. (2015). Effectiveness of massage therapy on respiratory status among toddlers with lower respiratory tract infection. Nitte University Journal of Health Science, 5(2), 49–54. Diambil dari http://nitte.edu.in/journal/june2015/10.pdf%5Cnhttp://ovidsp.ovid.com/ovidweb.cgi?T=JS&CSC=Y&NEWS=N&PAGE=fulltext&D=emed17&AN=606476858

Husin, A. (2014). Hubungan Berat Badan Lahir dan Status Imunisasi dengan Kejadian ISPA pada Balita di Puskesmas Wirobrajan Yogyakarta.  ’Aisyiyah Yogyakarta

Koes, I. (2015). Memahami Berbagai Macam Penyakit. Bandung: Alfabeta. hal 294-295

Lebuan, A. W., & Somia, A. (2017). Faktor Yang Berhubungan Dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Siswa Taman Kanak-kanak Di Kelurahan Dangin Puri Kecamatan Denpasar Timur Tahun 2014. E-Jurnal Medika, 9(1), 92, 135–150. Diambil dari https://ojs.unud.ac.id/index.php/eum/article/view/31485/19206%0A

Purnamasari, L., & Wulandari, D. (2015). Kajian Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Infeksi Saluran Pernapasann Akut. Indonesian Journal On Medical Science, 2(2), 36.

Suman, Y. M. H. (2013). Hubungan Status Gizi terhadap Terjadinya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita di Puskesmas Pajang Surakarta. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sutarmi, Kusmini, & W, M. N. (2014). Mom Massage, Baby Massage and Spa. Semarang: IHCA. hal 3, 5-6, 15-37

Tanto, C., Liwang, F., Hanifati, S., & Pradipta, E. (2015). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Penerbit Media Aesculapius. hal 172

Leave a Reply

5 + 17 =