Bagaimana Ibu Hamil Menjaga Kesehatannya dalam Era Pandemi Covid 19 Ini?

Oleh : Agustina Catur S_ Widyaiswara Bapelkes Semarang

Corona Virus (Covid ) 19 dapat mengancam siapa saja, tak terkecuali ibu hamil. Beberapa ibu hamil sudah ada yang terkonfirmasi postif Covid 19. Sebenarnya belum banyak  studi tentang  dampak Covid 19 pada ibu hamil dan belum ada bukti yang menyatakan bahawa ibu hamil lebih berisiko terkena penyakit parah dibandingkan populasi umum. Akan tetapi, saat kehamilan ada perubahan pada tubuh dan system imunitas yang dapat menjadikan faktor risiko seorang ibu hamil terkena covid 19. Oleh karena itu sangat penting bagi ibu hamil untuk melakukan pencegahan demi melindungi diri dan bayinya dari Covid 19.

Pencegahan umum yang dapat dilakukan ibu hamil :

  1. Stay at home.
  2. Pelajari buku KIA dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sedikitnya selama 20 detik (cara cuci tangan yang benar pada buku KIA hal. 28)
  4. Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang belum dicuci
  5. Gunakan masker  saat sakit/ Ketika keluar rumah
  6. Tutupi mulut dan hidung saat batuk atau bersin dengan tissue. Buang tissue pada tempat yang telah ditentukan. Bila tidak ada tissue, lakukan batuk sesuai etika batuk
  7. Bersihkan dan lakukan disinfeksi secara rutin permukaan dan benda yang sering disentuh.
  8. Sebisa mungkin hindari kontak dengan orang yang sedang sakit.
  9. Menghindari kontak dengan hewan seperti: kelelawar, tikus, musang atau hewan lain pembawa COVID-19 serta tidak pergi ke pasar hewan.
  10. Bila terdapat gejala COVID-19, diharapkan untuk menghubungi telepon layanan darurat yang tersedia (Hotline COVID-19 : 119 ext 9) untuk dilakukan penjemputan di tempat sesuai SOP, atau langsung ke RS rujukan untuk mengatasi penyakit ini.

Bagaimana sikap khusus terhadap kehamilan?

  1. Untuk pemeriksaan hamil pertama kali, buat janji dengan dokter agar tidak menunggu lama. Selama perjalanan ke fasyankes tetap melakukan pencegahan penularan COVID-19 secara umum.
  2. Menunda pemeriksaan kehamilan ke tenaga kesehatan apabila tidak ada tanda-tanda bahaya pada kehamilan (Buku KIA hal. 8-9).
  3. Pengisian stiker Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dipandu bidan/perawat/dokter melalui media komunikasi.
  4. Periksa kondisi dirinya sendiri dan gerakan janinnya.
  5. Periksa adanya tanda bahaya kehamilan dan masalah dalam masa kehamilan.Jika terdapat masalah  / tanda bahaya (tercantum dalam buku KIA hal 8-9), maka periksakan diri ke tenaga kesehatan. Jika tidak terdapat masalah  / tanda-tanda bahaya, pemeriksaan kehamilan dapat ditunda.

Tanda bahaya kehamilan :

  • Muntah terus dan tidak mau makan
  • Demam tinggi
  • Bengkak kaki, tangan dan wajah atau sakit kepala disertai kejang
  • Janin kurang bergerak
  • Perdarahan pada hamil mudan dan hamil tua
  • Air ketuban keluar sebelum waktunya

Masalah lain pada masa kehamilan:

  • Demam, menggigil, berkeringat
  • Sakit saat kencing atau keluar keputihan dan gatal- gatal di daerah kemaluan
  • Batuk lama
  • Jantung berdebar- debar atau nyeri di dada
  • Diare berulang
  • Sulit tidur/ cemas berlebihan
  • Pastikan gerak janin diawali usia kehamilan 20 minggu dan setelah usia kehamilan 28 minggu hitung gerakan janin (minimal 10 gerakan per 2 jam).
  • Menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, menjaga kebersihan diri
  • Mempraktikan aktivitas fisik berupa senam ibu hamil / yoga / pilates / aerobic / peregangan secara mandiri dirumah agar ibu tetap bugar dan sehat.
  • Minum tablet tambah darah sesuai dosis yang diberikan oleh tenaga Kesehatan.

Sumber : https://parenting.orami.co.id/

Sumber bacaan :

Kementerian Kesehatan RI. (2020). Pedoman Bagi Ibu Hamil, Ibu Nifas dan Bayi Baru Lahir selama Sosial Distancing. Jakarta.

WHO. (2020). Pertanyaan dan jawaban terkait COVID-19 untuk masa kehamilan, persalinan, dan menyusui. Retrieved from World Health Organization: www.who.int

Leave a Reply

3 × 4 =